The New Legend of Juna

DIARY ARJUNA

Dia adalah arjuna. Atau biasa dipanggil juna. Dihadirkan  tepat pada saat peringatan hari kemerdekan republik indonesia, yaitu tanggal 17 agustus 2014 dari pasar rawangkao lubuk dalam. Hari minggu itu ia dibeli oleh tuannya bersama sahabat perempuannya yang diberi nama jia. Jia terlihat lebih aktif ketimbang juna meskipun ia betina. Disamping itu, jia juga tidak pernah sakit sakitan seperti juna. Beberapa hari  sejak kedatangannya di rumah tuannya, juna mulai terkena diare alias mencret. Penyakit ini merupakan penyakit yang lebih sering menyerang kelinci yang masih kecil, berkisar dibawah usia 2 bulan.
Sang tuan menjadi panik karena kejadian itu. Ruangan yang  menjadi kamar kelinci itu terasa bau kecing yang menyengat disebabkan kotoran cair juna yang berceceran kemana kemana,  hampir disetiap sisi kandangnya. Sang tuan akhirnya memandikan mereka berdua dan membersihkan kandang mereka. Sang tuan mengobatinya dengan memberikan mereka daun pisang dan daun pepaya sebagai obat mencret. Dan menarik semua jenis makanan yang diberikan sebelumnya, seperti kangkung. Karena hampir semua orang mengetahui bahwa kelinci itu paling suka dengan wortel dan kangkung. Termasuk pada saat sebelum juna diare, sang tuan memberi mereka kangkung satu ikat. Dan hampir habis hanya dalam waktu satu malam saja. Tapi ketika pagi, kelinci itu langsung lemas dan bau busuk karena diare.
Disore harinya, juna sudah sembuh dari diarenya. Kejadiannya ini sempat berulang sebab sang tuan belum mengetahui bahwa ternyata kelinci ini tidak tahan makan kangkung. Sejak saat itu sang tuan tak pernah lagi memberi mereka kangkung.
Cukup melegakan sekarang, mereka dapat terhindar dari sakit diare. Namun suatu hari, setelah mereka dimandikan untuk kedua kalinya. Masalah barupun muncul kembali. Jia yang terlihat aktif, mulai terlihat aneh tingkahnya.  Dan juna, juga terlihat berbeda dimata sebelah kanannya.
Ada apa ini? Sang tuanpun kembali khawatir dibuatnya, apalagi ini kali pertamanya mrngurus kelinci, apalagi masih anakan,meskipun dari segi pengetahuan teori sang tuan banyak tahu dari yang dibacanya di internet, namun dalam hal praktek pengetahuannya tentang merawat kelinci itu jelas nol.
Disiang hari menjelang sore, atau sekitar pukul setengah tiga, sang tuan melihat tubuh jia kejang kejang. Terlihat seperti kesakitan. Sang tuan pun mengangkat tubuhnya dan meletakkannya di atas pangkuan,  seraya  mencoba berkata padanya, "kamu kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?" Sang tuan terlihat cemas, sedih dan ketakutan.  Segera  beberapa detik setelah itu, semua menjadi hening. Tak lagi terlihat kesakitannya, tak lagi terasa kepedihannya. Semua yang ditakutkan sang tuan terjadi saat itu juga. Hanya kesedihan yang menggelayuti pikirannya karena kehilangan. Tak ada angin, tak ada mendung, tak ada hujan. Tiba tiba jia sudah pergi meninggalnnya.
Kini, hanya tertinggal juna saja. Dia pun juga berada pada kondisi yang menyedihkan. Mata kiri juna, yang dulu terlihat bening dan bersih berwarna kemerah merahan, sekarang tak dapat dibuka lagi. Kedua bibir matanya menjadi lengket karena ternyata cairan shampo yang dipakai ketika memandikannya tak sengaja masuk ke dalam matanya. Sang tuan merasa bersalah, dan selalu mengucapkan kata maaf ketika ia menggendongnya.
Sang tuan bertekad untuk menyembuhkanjuna. Ia tak ingin kehilangan teman kecilnya untuk kedua kalinya. Ia tak sanggup, ia juga tak siap menghadapi jika itu harus kembali terjadi. Meskipun dalam keadaan sakit, juna masih tetap terlihat patuh dan menyayangi tuannya. Seolah olah ia tahu semua perasaan yang ada dihati tuannya. Seolah olah ia dapat memahami bahasa yang diucapkan sang tuan ketika berbicara dengannya. Dan seolah olah ingin berkata, "tidak apa-apa, aku sudah memafkanmu, dan aku juga menyayangimu." Namun semua itu hanya dapat ia suratkan melalui gerakan umik-umik di pucuk hidungnya. Jika kau memperhatikannya secara seksama. Yah, itulah yang dapat ia bahasakan, bagi seorang binatang cerdas dan perasa seperti dia. Meski tak dapat berucap kata, tapi dia tetap bisa berbahasa. Percaya bahwa semua makhluk berbahasa.

Sang tuan tak tau lagi harus bagaimana. Akhirnya dengan penuh harap, ia meneteskan obat mata miliknya untuk mata juna selama kurang lebih 3 hari. Sungguh, ini diluar dugaannya, namun dekat dengan harapannya. Juna dapat merespon obat itu. Perlahan lahan matanya dapat terbuka, dan sedikit demi sedikit iritasi dimatanya mulai berkurang. Tak berapa lamapun, mata juna sudah benar benar sembuh dan kembali normal. Sang tuan amat bersyukur atas kesembuhan itu. Ia kini semakin bertekad untuk merawatnya dengan baik serta menjadi teman yang baik pula untuknya. Sang tuan pun mulai memperhatikan makanan yang baik untuk juna. Dia bahkan rutin membelikan pelet khusus untuk kelinci yangmengandung cukup nutrisi dan mencegah rasa stress padanya. Sekarang, dia bukan sang tuan, tapi sang kawan.

Komentar

Postingan Populer