SESAAT SAJA" cerpen



Sesaat saja
By: Heny Ernawati
Padang, 9 April 2011
Pukul 9.52 am.
Suasana siang ini begitu cerah, aku dan Sesi duduk di tepian waduk. Menikmati sejenak keindahan hutan beserta waduknya. Benar-benar indah rasanya, sungguh Maha Agung yang telah menjadikan semua ini untuk manusia. Semua keletihan dan kepenatan kami tiga hari di perkemahan ini seperti hilang begitu saja setelah melihat ciptaan-Nya ini.
Kami berbincang-bincang tentang semua hal yang telah kami lakukan selama di perkemahan ini, di saat kacau ataupun saat kompaknya. Acara-acara seperti ini memang meninggalkan kesan yang sangat mendalam setelahnya. Aku dan Sesi berjalan-jalan di pinggiran waduk, dari kejauhan kami melihat pinggiran waduk yang tidak terlalu dalam dan tidak terlalu lebar. Melihat itu, aku mengajak Sesi untuk duduk disana. Sepertinya asyik pikirku. Tanpa Sesi menjawab langsung saja aku pegang pergelangan tangannya, dan menariknya sambil berlari. Di tak bisa menolak dan mengikut saja.  
Sesampainya di tempat yang di tuju, kami tercengang. Tiba-tiba Sesi menjerit, “vi… lihat ada ikan besar warna hijau…..”. dalam ketercengangan ini kami berlirih, memuji-Nya, “Subhanallah”. Anehnya ikan itu tidak terlihat takut ataupun merasa terganggu dengan kedatangan kami. Santai saja ikan hijau itu berputar-putar di sekitaran itu sambil mencuap-cuapkan mulutnya yang lebar itu, “mungkin dia lapar vi?” Sesi mencoba menebaknya. “mungkin!?” jawabku.
Dari pinggir waduk, aku dan Sesi menggoda ikan itu dengan mengayun-ayunkan tangan kedalam air, dan terkadang dia seperti ingin mengejar. Tiba-tiba terbesit dalam pikiranku untuk menagkap ikan unik ini, tapi sesi berkata, “tangkap saja kalau bisa”. Ini membuatku menjadi tertantang untuk menangkapnya.
Perlahan kumasukkan kaki kananku dari tepian waduk, mencoba menarik perhatian ikan hijau ini agar mendekatiku. Sesekali iya mendekat, tapi hanya sebentar dan kemudian berenang kencang menjauhiku lagi. “ikan ini seperti meledekku saja ses…”. “hahahaa… emang enak diledekin sama ikan?, coba masuk lebih dalam vi… eh, tapi hati-hati ya, gigi ikan itu kelihatan tajam lho!!”
Aku hanya diam saja, sambil melangkahkan kaki untuk masuk ke waduk lebih dalam lagi. Dan ku lihat ikan itu pun perlahan-lahan berenang mendekatiku. Aku sangat senang bisa melihatnya dari dekat, tapi tiba-tiba aku… “aaaAAAaaAAAwwwww…… “
Dari belakang aku mendengar suara Ari memanggil-manggil, “Vivi,,, vi,, kenapa??? Kalian sedang apa” suasana menjadi seperti menakutkan. Aku merasa perih di betisku, ternyata  Ikan hijau itu yang menggigitnya.
Wajah Sesi kelihatan panik mendengar teriakanku tadi, tapi sekarang  dia sudah lebih tenang melihat aku baik-baik saja, tapi dengan tergagap-gagap Sesi menjawab pertanyaan Ari, “Vivi sedang mencoba menangkap ikan,ri.. tapi aku tidak tahu kenapa dia teriak??”. “AAAaaaa…. Buat apa menangkap ikan? “ dengus Ari.
“Aku senang dengan ikan itu ri, jadi aku ingin menangkapnya sebelum kita pulang dari sini..”. “ikan itu telah menggigit betisku, jadi aku harus menangkapnya!!!”
Aku teringat waktu kecilku bermain-main di kolam hanya untuk menangkap ikan kecil seperti ikan teri, atau cuma menangkap kecebong. Sungguh menyenangkan, dan aku mencoba untuk menerapakan lagi cara-cara menangkap ikan di kolam itu sekarang. Perlahan-lahan aku berjalan mendekati ikan hijau itu, aku seperti melihat senyum sumringah di bibirnya, karena telah berhasil menggigit betisku. Aku tetap tenang untuk mendekatinya. Pelan-pelan aku giring ikan itu sampai ketepian waduk yang airnya tidak lagi dalam. Ikan itu sekarang terpojok. Dan, dengan sigap dan memburu, aku cekamkan tanganku di tubuh ikan besar hijau itu. Wow…sungguh senang hati ini rasannya…
Tapi, Ikan ini membuatku letih. Letih meledeknya, digigitnya, menangkapnya, bahkan setelah di tangkap pun, aku masih letih. Betapa tidak, dia terus bergerak-gerak menggeliat di tanganku, seperti berusaha untuk menggigit tanganku. Aku kualahan …. Dan, ikan itu terlepas saja dari tanganku… dan disambut dengan panggilan dari kakak pembina kami agar berkumpul sebelum pulang.

****
Aku sudah berada di mobil dengan bak terbuka untuk pulang sekarang, bersama barang-barang dan alat-alat perkemahan kami, aku duduk di paling pinggir sebelah Sesi. Mobil melewati jembatan yang dibawahnya masih satu aliran dengan waduk tadi. Aku melihat ke arah bawah jembatan, teringatlah olehku, ikan unik tadi yang suka meledak itu. Pertemuan yang hanya sesaat dengannya, tapi aku merasa telah merindukannya. Di bawah sudut jembatan yang sudah tua itu, aku. Aku. Aku. Aku melihatnya…. Melihatnya seperti menatap sedih kepergianku….


diterbitkan di Padang Ekspres, Minggu 24 April 2011 hal.6.
bagian Remaja, CE-ES (Cerita singkat)


Komentar

  1. alhamdulillahirabbil 'alamin.
    terima kasih ya Allah, engkau mendengarkan dan mengabulkan harapan, cita dan do'a hamba.....
    this is my first short story which published in newspaper/media mass.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer