ROMANTISME SAHABATKU
D |
uhhh… capek! Akhirnya berakhir juga kuliah hari ini. Aku lihat jam di tangan menunjukkan pukul 03.00 pm. pokonya aku ingin segera pulang. Tas ransel hitam mulai ku sandang sambil berdiri untuk melangkah keluar kelas. Baru selangkah aku berjalan, aku agak terkejut karena tiba-tiba tangan seseorang menepuk bahuku dari samping kiri, “heyy,, ben, mau kemana setelah ini?”, “haa…??! (sambil mulut menganga karena terkejut) Aku mau langsung pulang saja Reno, capek banget badan ini karena seharian kejar-kejaran sama tugas-tugas kuliah.” Jawabku. Reno itu kurus kerempeng, tapi tepukan tangannya dibahuku tadi itu lumayan bikin sakit…
Dia menambahkan, “ooo… Aku mau ke jalan Melati, kamu lewat sana kan? ikut dong Ben???”
“hmmm,, ya, boleh-boleh aja kok. Yuk?” jawabku sambil kami terus berjalan menuju tempat parkiran motor.
Sesampainya di tempat parkiran, aku baru ingat sesuatu, “oh ya No, ntar kita mampir ke ATM kampus bentar ya?”, “OK dech,, “ katanya.
Pergilah kami dengan mengendarai motorku yang cukup besar untuk ukuran tubuhku yang pendek dan kecil. Bahkan terkadang aku gagal untuk mendaratkan motor karena kakiku yang pendek ini sulit untuk mencapai tanah. Apalagi kalau ingin menyebrangi jalan raya, atau berhenti mendadak kayak kebakaran jenggot dech paniknya. Tapi untunglah, selama ini aku tidak pernah kecelakaan parah yang dikarenakan kondisiku ini. Kalau jatuh sih pastinya sering. Fisik sih tidak parah tapi yang parah itu ketika jatuh lalu dilihat semau orang yang ada di sekitar jalan itu sambil menertawakanku karena melihat proses jatuh yang teramat lucu. Haa…!!!! Rasa malunya itulah yang parah.
Dan untungnya lagi, kali ini aku tidak menggonceng Doni, temanku yang berbadan tinggi dan besar, berat badannya saja dua bulan yang lalu sekitar 85 kilogram… Woowww!! Bisa bayangkan??? Aku yang cuma 50 kg harus menggonceng Doni yang 85 kg, dengan motor yang lumayan tinggi lagi… yaach.. mau bagaimana lagi, kasihan juga dia kalau harus ditinggal sendirian. Begitulah, hebatnya aku.
Kalau Reno, dia cuma 45 kilogramlah kayaknya, karena dia lebih kurus daripada aku. “Jadi, amanlah kalau cuma menggonceng Reno yang super ringan” pikirku. Tidak ada bedanya antara mengonceng dia atau tidak, serasa naik sendiri saja, karena saking ringannya.
****
Sekarang tibalah kami di depan ATM yang terletak disebelah kanan jalan, aku melihat banyak sekali orang yang mengantri disana, haripun terasa panas menyengat. Apalagi parkiran disana juga sudah penuh, tak ada lagi tempat untuk memarkirkan motorku. Lalu aku berkata ke Reno, “Ren, bayak banget yang ngantri, hari panas banget lagi, ga jadi aja dech?!”
“gfdrg vhurersa… “ jawabnya tak jelas karena bercampur dengan riuh ribut kendaraan lain dan orang-orang disana.
Setelah itu aku tidak konsentrasi dengan apa yang dikatannya, aku harus fokus dengan mengendarai motorku, karena didepan kami ada mobil yang akan lewat, sedangkan jalan hanya muat untuk lewat satu mobil saja karena terlalu rame dan banyaknya kendaraan yang parkir sembarangan dipinggir jalan itu, jadi aku harus mengambil posisi sangat menepi dari jalan dan berhenti sebentar untuk membiarkan mobil itu lewat duluan. Lewat sudah mobil itu, aku pun langsung tarik gas lagi untuk langsung pulang saja, “besok sajalah ke ATM nya, bener-bener capek nich” bisikku dalam hati lagi.
Karena sudah capek mengejar tugas seharian, bolak-balik kesana kemari, jadi aku mengemudikan motorku dengan kecepatan yang sedang-sedang saja sambil menikmati pemandangan di pinggir jalan. Aku rasa Reno juga melakukan hal yang sama, karena duduknya begitu tenang sekali. Dan kupikir, karena tak ingin saling mengganggu, aku maupun Reno tidak ada yang membuka suatu percakapan apapun disepanjang jalan. Semua begitu tenang dan terasa nyaman, saling memahami dan saling mengerti bahwa kita sama-sama capek. Begitu romantis terasa.
Hingga sampailah kami di jalan Melati. Aku coba untuk mengingatkannya, “No, dah sampai nih, kamu mau turun dimana?”… sepi… tak ada jawaban. Ku ulangi lagi, “Reno,,, kita sudah sampai di jalan melati, kamu mau turun dimananya?? …tak ada respon juga… “mungkin Reno terlalu khusuk menikmati perjalanan ini” batinku. Tapi,,, lama-lama kok rasanya aneh, takut, khawatir, cemas dan sebagainya ya?,
Akhirnya, aku putuskan untuk menepi motor dan berhenti, perlahan-lahan kulihat kebelakang sambil memanggil “Reee…nn……..”
Uppss… Astagfirullahal’adzim,”Reno,,,,,,,,,,,,,???????????? Kamu dimana????”
Ingatanku kembali ke tempat ATM tadi, mungkinkah dia turun saat aku menepikan motor untuk membiarkan mobil tadi lewat duluan??????
Ternyata, menggonceng yang ringan seperti Reno itu lebih berbahaya daripada menggonceng Doni si bongsor itu. Ha…haa…haaa…..
By: heny ernawati
Padang, 19 juni 2011
Pukul 09.05 am.
Komentar
Posting Komentar