Kebekuan ini; Sampai Kapan?
Langkahnya tergesa-gesa untuk segera sampai di ruang kelas perkuliahan pagi ini. Jarum jam dipergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 07.58 am. Orang-orang disekitarnya juga terlihat memburu langkah mereka agar segera sampai ditujuannya masing-masing. Amrita membalikkan badannya kekiri ketika sampai di persimpangan kelasnya yang berpintu tepat di ujung kanan gedung perkuliahan.
Namun geraknya tiba-tiba terhenti. Dia melihat sesosok bayangan dilantai yang muncul dari arah yang berlawanan dan juga dengan langkah yang tergesa-gesa. Seketika itu pula, sosok bayangan itu berhenti bergerak. Dengan sergap Amrita mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya kepada makhluk yang menjatuhkan bayangannya ke lantai tadi. Ternyata dia juga mengarahkan pandangannya ke Amrita, sehingga mereka saling beradu pandang pada saat itu untuk beberapa detik. Dia adalah Rio teman sekelasnya.
Amrita dan Rio saling melemparkan senyum yang keduanya sama-sama merasakan adanya hal aneh. Senyum itu menyimpan sejuta makna tanpa kata. Entah apa itu, mungkin hanya mereka yang mengetahuinya. Tapi semua itu segera berlalu dan Amrita melanjutkan langkahnya lebih dulu untuk masuk ke dalam kelas, baru kemudian Rio menyusul dari belakang.
Sekarang 35 menit sudah berlalu, dosen yang mereka tunggu-tunggu tak juga datang. Semua teman-temannya sudah gelisah menunggu sejak tadi, tetapi tidak dengan Amrita yang sibuk membaca dan memahami buku yang dibacanya. Baru kemudian salah seorang temannya masuk ke kelas dengan sedikit berteriak, “kawan-kawan, bapaknya tidak datang, beliau sedang diluar kota katanya. Jadi kita hanya diberi tugas untuk membuat paper tentang topik yang harus kita bahas hari ini ……”
Semuanya mendengus panjang, entah apa maksudnya, apakah mereka senang tidak ada kuliah atau karena mereka kecewa tidak jadi kuliah? Tapi yang jelas, mereka langsung pulang begitu mendengar hal itu.
Tak lama setelah itu, ruangan itu benar-benar menjadi sangat sunyi, tinggal Amrita sendiri yang menghuninya sambil menikmati renungan bacaannya. Kali ini dia menemukan satu perenungan baru. Hampir semua orang pasti setuju ketika dikatakan bahwa tak ada yang abadi didunia ini. Namun tidak begitu halnya dengan Amrita, justru sebaliknya. Segala sesuatu didunia ini, sekecil apapun, seremeh apapun dan seringan apapun itu, semua itu pasti akan abadi. karena malaikat Allah senantiasa mencatat perbuatan kita. Dari bangun tidur, apa yang kita lakukan di pagi hari, apa yang kita lakukan untuk orang lain disiang hari, apa yang kita makan disore harinya dan seterusnya. Semua ada catatannya yang akan menjadi bukti kelak, bahwa pantaskah kita masuk surga atau masuk neraka-Nya.
Renungan baru ini pun ia sebarkan kepada teman-temannya melalui pesan singkat. Ini merupakan salah satu hobinya, yaitu berbagi pengetahuan baru dengan teman-temannya. Rio merupakan salah satu yang selalu merespon pesan-pesan nasihatnya.
Setelah penyebaran pesan singat selesai, Amrita melanjutkan bacaanya. Baru tiga baris ia membaca bukunya, konsentrasinya terpecah mendengar telepon genggamnya berdering. Tak ada nama tertera di layar teleponnya. Dengan agak ragu ia pun menjawab panggilan itu. Dari jarak jauh itu terdengar suara seorang perempuan, “Assalamu’alaikum.. apakah ini Amrita temannya Rio? Saya Resi kakaknya Rio…”
“Iya, saya Amrita teman Rio. Ada apa ya kak?”
“Begini Amrita, kakak tidak kenal siapa saja teman Rio di kampus untuk menanyakan perihalnya. Kakak pernah lihat handphone Rio dan melihat banyak pesan nasihat dari Amrita yang sengaja ia simpan. Kakak rasa. kakak bisa lebih percaya kepada Amrita tentang Rio ..”
Setelah panjang lebar Resi memberikan penjelasan kepada Amrita, akhirnya Resi pun mengatakan keinginannya untuk bertemu dengan Amrita. Amrita menyetujuinya, “nanti sore setelah ashar kita ketemuan di cafe dekat kampus ya kak?”. “OK deh, makasih ya dek..?” balas Resi dengan lembut.
***
Sekarang sudah pukul 16.30, Resi duduk menunggu Amrita sambil menyandang segelas teh es di meja kanan baris ke-dua di cafe yang telah mereka sepakati tadi. Dari tempat Resi duduk, ia melihat seorang perempuan berdiri didekat pintu masuk dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru cafe itu seperti sedang mencari seseorang. Resi menebaknya, itu adalah Amrita. Kemudian ia berjalan mendekatinya lalu menyapanya “hai… apakah kamu Amrita?” perempuan itu menjawab “ya, saya Amrita”. Resi pun mengajaknya duduk di tempat ia duduk tadi.
Resi menceritakan kesahnya tentang Rio yang berubah. “Dia sulit dihubungi, di SMS pun jarang sekali dibalasnya, apalagi kalau di akhir-akhir pekan. Kalau dia punya pacar, kenapa dia tidak memberi tahu kakak, padahal biasanya dia juga cerita. Dia sekarang agak pendiam dari biasanya. Tingkah lakunya juga aneh, seperti ada yang dia sembunyikan. Ketika kakak Tanya ‘kenapa’, dia tak pernah mau menceritakan permasalahannya kepada kakak. Kakak khawatir tentang dia. Kalau menurut Amrita, bagaimana kesehariannya di Kampus?”
Amrita menjawab dengan suara rendah dan terlihat grogi, “mm..Rio itu, dia anak yang pintar kak, dan juga biasa-biasa saja, tidak seperti teman-teman cowok yang lainnya. Tapi, Amrita memang merasa ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini kak. Dia mulai sering absen kuliah. Amrita juga tidak tahu pastinya kenapa. … “
Keduanya terus berbincang-bincang seputar Rio, tak ada satu hal pun yang terungkap darinya. Meskipun sebenarnya Resi juga merasa aneh dengan sikap Amrita yang terlihat bingung itu, tapi karena sudah jam 6 sore, Amrita meminta izin untuk pulang. Resi mengizinkannya, dan sebelum pulang ia berkata, “O ya, Amrita besok ada kuliah sama Rio jam berapa? Kakak sudah 1 bulan tidak bertemu Rio, kelihatannya dia sangat sibuk, jadi mungkin kakak yang akan datang ke kampus untuk menemuinya…”
Amrita pun memberi tahu jadwal kuliahnya dengan Rio untuk besok sore di salah satu gedung perkuliahan. Kemudian ia beranjak pergi dari café itu dan hilang di sudut kanan pengkolan cafe, setelah Resi mengucapkan terimakasih kepadanya.
####
Keesokan harinya, ketika hanya beberapa langkah lagi Resi hampir sampai diruangan yang dituju untuk menemui Rio usai kuliah, samar-samar ia mendengar isakan tangis seorang perempuan dari sudut depan ruangan. Ia mendekatinya, dan dilihatnya Amritalah perempuan itu. Ia pun merasa iba melihat tetesan air bening yang keluar dari kedua mata gadis itu, lalu merangkulkan tangannya kebahu belakang Amrita. Amrita yang baru menyadari kedatangannya, berbalik merangkulnya sambil berucap terisak-isak, “kak, maafkan Amrita yang sudah berbohong kepada kakak, Amrita hanya berusaha menjaga sebuah kepercayaan dari Rio. Amrita tidak tahu kenapa Amrita yang di pilihnya untuk mengetahui rahasianya. Tapi Amrita tidak tahan menghadapinya sendiri lagi, jadi mungkin ini saatnya untuk kakak tahu yang sebenarnya tentang Rio. Rio tidak datang kuliah sore ini. Dia mengirim pesan ini ke Amrita,
‘Sorry Rit, Rio ga kuliah sore ini karena ada
panggilan dari pelanggan untuk sore dan malam ini’…”
Padang, 27 April 2011
Pukul 13.40 pm
Komentar
Posting Komentar