suku asmat, irian jaya


UPACARA BIS PADA SUKU ASMAT

            Upacara Bis adalah salah satu kebudayaan yang berasal dari suku Asmat, provinsi Irian Jaya.  Kata Bis disini memiliki arti patung leluhur.
Pada zaman dahulu, di Irian Jaya sering terjadi perang antar suku,  kemudian Upacara Bis dilakukan oleh penduduk suku Asmat dengan maksud untuk menghormati dan mengantarkan roh saudaranya yang telah meninggalkan dalam peperangan. Orang yang meninggal dalam peperangan tersebut harus diantarkan ke tempat peristirahatannya yang abadi yaitu di sebuah pulau tepatnya di muara sungai Siret. Menurut kepercayaan mereka, roh itu akan tenang bila sudah dilaksanakan pembalasan terhadap si pembunuh.
            Namun pada masa sekarang, perang antar suku sudah tidak lagi terjadi, sehingga Upacara Bis hanya mereka lakukan bila mendapatkan malapetaka atau ketika bahan makanan tidak mencukupi kebutuhan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, hal itu terjadi karena roh-roh leluhurnya belum di antarkan ke peristirahatannya yang abadi di muara sungai Siret.
                        Penduduk Asmat merupakan keturunan orang Fumiripits yang pandai membuat patung-patung, tetapi tidak semua orang Asmat pandai membuat patung. Orang-orang yang pandai membuat patung disebut Wow-ipits. Nah, para Wow-ipits inilah yang mengerjakan pembuatan patung Bis itu hingga selesai ditegakkan di daerah sagu.
            Walaupun kayu banyak terdapat di daerah ini, namun pemilihan kayu untuk membuat patung Bis dilakukan sangat teliti dan hati-hati. Kemudian kayu-kayu  yang telah ditebang dari hutan itu dibawa keperkampungan melalui sungai. Para wanita menyambut kedatangan para lelaki yang mencari kayu-kayu itu layaknya menyambut pahlawan yang baru datang dari medan perang. Kayu pilihan itu dibawa ke halaman rumah panjang, lalu di bentuk secara kasar sebelum di ukir halus di dalam rumah panjang. Selama pembuatannya, wanita dan anak-anak tidak diperkenankan masuk ke rumah panjang.
            Dalam pengerjaan patung-patung tersebut, para Wow-ipits dibantu oleh para asistennya, mengerjakan patung itu dengan ketulusan yang mendalam. Mereka membuat patung-patung yang berupa wajah-wajah leluhur mereka yang telah meninggal. Patung-patung itu dibuat bersusun, patung yang satu berdiri di pundak patung yang lainnya. Patung yang berada paling atas adalah leluhur yang di anggap paling dihormati.
            Pohon bakau pun mereka pergunakan untuk membuat patung, namun yang paling penting dalam pembuatan patung-patung Bis itu menurut kepercayaan mereka, adalah cemen, sebagai lambang kesuburan. Bekal yang juga di perlukan selama pembuatan patung-patung Bis itu adalah sekitar 10 keranjang sagu, yang setiap keranjangnya berisi kira-kira  10 kilogram. Akar-akar bakau yang kuat itu   pun juga mereka gunakan untuk membuat patung Bis  anak-anak.
            Di rumah panjang itu para Wow-ipits tekun membuat patung-patung Bis selama enam minggu, bahkan bisa mencapai delapan minggu bila patung-patung Bis yang dibuat sangat besar dan banyak jumlahnya. Selama itu pula, setiap sore di adakan upacara perang-perangan antara wanita dengan laki-laki yang bertujuan untuk mengusir roh-roh jahat yang masih berkeliaran di perkampungan. Saat itulah seorang wanita bisa memukul sekeras-kerasnya seorang lelaki yang pernah menyakiti hatinya.
            Jika patung-patung Bis berbentuk manusia yang bersusun-susun itu sudah selesai di ukir, baru kemudian patung-patung Bis didandani. Para Wow-ipits memberinya hiasan-hiasan atau gelang-gelang dari daun sagu. Mereka tak lupa menggambari patungnya. Badannya diwarnai dengan warna putih, rambutnya dengan warna hitam dan lukisan-lukisan di tubuhnya dengan warna merah dengan gambar-gambar yang melambangkan kegagalan, dan keperkasaan.
            Setelah pembuatan patung-patung Bis di anggap sudah selesai, maka akan dibawa ke daerah sagu. Patung itu disandarkan di sebuah panggung kayu di depan rumah panjang. Kemudian semua anggota keluarga  yang ditinggalkan berdatangan ketempat itu, lalu berdiri di depan patung. Mereka menenangkan roh leluhurnya, bahwa dendam sudah terbalas. Mereka pun  memohon agar roh yang gentayangan segera meninggalkan perkampungan dan istirahat dengan tenang di pulau peristirahatannya di muara sungai Siret. Mereka pun memohon agar diberikan kesuburan  serta tidak diganggu oleh roh-roh jahat.
            Bila penumpahan kecintaan dan pembalasan dendam sudah disampaikan serta yang ditinggalkan sudah mengajukan permohonan dan harapan, maka patung itu di gotong ke daerah sagu untuk di tegakkan di sana hingga rusak. Patung kebanggakan para Wow-ipits itu ditegakkan yang dikagumi oleh para wanita yang melihatnya jika melewati tempat tersebut.
 Dengan upacara Bis ini mereka telah puas karena mereka telah menenangkan roh itu dan kemudian meluncurkannya dengan perahu lesung kesebuah pulau di muara sungai Siret dengan berbekal sagu dan ulat sagu.
            Tifa yang dipukul mengiringi tarian dan nyanyian menghantar kepergian roh tersebut terkesan meriah. Upacara menghantar roh leluhur ke tempat peristirahatannya yang terakhir itu berlangsung  hingga sore hari.
            Bila senja tiba, mereka pulang kerumahnya masing-masing dengan harapan  mereka tidak diganggu oleh roh-roh jahat serta diberi kesuburan pada tanah mereka sehingga bahan makanan dapat tercukupi. 


Padang, 2009
(heny ernawati)

Komentar

Postingan Populer