realita pemimpin
REALITA PEMIMPIN SAAT KINI
Oleh: Heny Ernawati (0910732045)
Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah, seseorang harus memiliki keterampilan khusus dalam mengemban kewajiban ini. Oleh karenanya, dalam menunjuk siapa yang akan menjadi pemimpin pun juga bukan hal yang sederhana. Ada berbagai hal yang harus kita perhatikan dari seorang calon pemimpin. Misalnya dari segi kecerdasan, akhlak, kepribadian, prinsip hidup, dan komitmen sebagai seorang pemimpin.
Namun realita saat ini yang kita lihat adalah seperti ada penurunan kewibawaan dalam diri seorang pemimpin. Coba kita perhatikan fenomena yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia akhir-akhir ini. Seperti diberitakan dimedia massa, ada sejumlah artis yang selama ini berpenampilan seronok dicalonkan sebagai pemimpin atau wakil kepala daerah, misalnya saja Jupe yang di calonkan sebagai wakil bupati Pacitan, dan Maria Eva dicalonkan sebagai wakil bupati Sidoarjo. Padahal kita tahu, begitu kontroversialnya Jupe yang bangga mengumbar aurat. Begitu juga dengan Maria Eva yang video mesumya sempat membuat heboh warga ibukota.
Pertarungan antar nilai-nilai budaya, dan pengaruh asing yang setiap hari terus berlangsung merupakan beberapa sebab mengapa orang yang cacat moral bisa maju sebagai calon pemimpin. Penyebab lainnya adalah gagalnya partai polotik menjalankan fungsinya sebagai partai kader yang mencetak calon pemimpin. Eva dan Jupe bukannya tidak pantas menjadi pemimpin, tetapi mereka tidak memiliki komitmen dalam memperbaiki diri sebelum mengurusi orang lain. Apa jadinya seandainya pemimpinnya adalah ahli maksiat, suka berzina, bangga mengumbar aurat, korup, berijazah palsu, dan pemakai narkoba?. Kalau demikian dalih demokrasi yang diambil, bisa-bisa banci pun bisa menjadi pemimpin. Dan akhirnya, kemaksiatan pun merajalela.
Dalam kajian filsafat mengatakan bahwa, tindakan itu adalah penjabaran dari apa yang dipahami. Jupe dan Eva adalah seorang enternaimen, yang mungkin tidak aneh bagi masyarakat jika pakaian dan tingkah merekalah yang mereka jual kepada publik. Sedangkan pemimpin dituntut untuk tidak seperti itu, lalu bagaimana masyarakat nantinya seandainya masalah masyarakat yang erat kaitannya dengan pemimpin harus dipegang oleh orang yang tidak paham dengan apa yang diembankan kepadanya. Bukan mereka tidak sadar akan apa yang mereka lakukan yaitu ikut mencalonkan menjadi seorang pemimpin, saya sangat yakin mereka amat sadar akan kemampuan mereka dalam hal memimpin, lalu apa yang membuat mereka nekad melakukan ini? Jika materi tujuannya, tidakkah cukup penghasilan mereka selama ini menjadi artis?
Sekarang apa solusi yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan identitas bangsa Indonesia yang harus kita jaga kekokohan nilai-nilai karakternya?. Salah satu caranya dengan menambahkan persyaratan untuk menjadi pemimpin, yaitu calon pemimpin bukanlah orang yang cacat moral.
Padang, 22 juni 2010
Reference : “Tolak Pemimpin Porno” Hal.7
Majalah Sabili, edisi 22
Komentar
Posting Komentar