Keluarga Qur'ani ; Review "10 Bersaudara Bintang Al Qur'an"
Judul buku : 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an
Penulis : Izzatul Jannah (nama asli Setiawati Intan Savitri)
Genre : Non-Fiksi
Penerbit : ARKAN LEEMA
Cetakan : 2010
Tebal : xiv + 150 hlm
Peresensi : Heny Ernawati (0910732045)
“Katakanlah (Muhammad), ‘Mari aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baik kepada ibu-bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka…’ ” (QS Al An’am 6:151)
Pada saat sekarang ini, banyak masyarakat yang berpendapat bahwa memiliki banyak anak akan sangat sulit dalam mendidiknya, apalagi dalam hal perekonomian keluarga. Banyak pula yang beranggapan bahwa krisis ekonomi yang terjadi itu disebabkan oleh banyaknya penduduk. Benarkah ini? Padahal bumi memiliki kapasitas pendukung yang memadai. Misalnya saja Pulau Jawa yang walaupun padat penduduknya tapi tetap eksis. Sedangkan Pulau Irian yang jarang penduduknya tapi malah kurang eksis, Bukankah pulau ini memiliki sumber daya alam yang sangat luar biasa? Tapi mengapa Pulau Jawa lebih eksis jika dibandingkan dengan Pulau Irian? Jadi, masalahnya sekarang adalah bukan pada padatnya penduduk, tetapi lebih kepada bagaimana manajemen ruang dan manajemen sumber daya manusia itu sendiri. Karena kualitas manusia akan meningkatkan kualitas pengelolaan alam semesta yang akan mensejahterahkan umat manusia.
Memiliki banyak anak bukan menjadi masalah, jika saja kita dapat mendidiknya menjadi anak-anak yang berkualitas. Sehingga ada keseimbangan antara kuantitas dengan kualitas. Hal ini memang bukan suatu hal yang mudah untuk diwujudkan. Tetapi dengan kesungguhan niat dan diimbangi dengan hanya mengharap keridhoan Allah SWT. Insya Allah ini bukanlah suatu hal yang mustahil terjadi. Seperti yang diungkap dalam buku berjudul “10 Bersaudara Bintang Al Qur’an” oleh Izzatul Jannah yang berisi tentang kisah nyata sepasang suami istri yang memiliki 11 orang anak, dan berhasil mendidik 10 orang anaknya menjadi hafiz/hafizah Al Qur’an dengan berbagai prestasi yang luar biasa dalam dunia akademisnya. Sedangkan putra ke-11 meninggal pada usia tiga tahun karena sakit selama setahun.
Sepasang suami istri ini bernama pak Mutaminul ‘Ula atau pak Tamim, dan istrinya ibu Wirianingsih, biasa dipanggil ibu Wiwi. Pak Pamim dan ibu Wiwi bukanlah seorang penghafal Al Qur’an, bahkan mereka adalah orang-orang yang sibuk dengan berbagai aktifitas di luar rumah. Tapi ternyata mereka tetap bisa mendidik anak-anaknya menjadi para bintang. Ibu Wiwi adalah pemimpin tertinggi salah satu organisasi muslimah yang cabangnya meliputi 150 kota di Indonesia, sedangkan pak Tamim adalah anggota DPR-RI. Keduanya juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sebagai aktivis dakwah.
Lalu bagaimana mungkin dengan begitu banyaknya kesibukkan yang mereka lakukan diluar rumah tapi tetap bisa mendidik anak-anak menjadi bintang Al Qur’an yang sangat cemerlang, tidak hanya di dunia akademis tetapi juga non-akademis? Apakah rahasia mereka dalam menciptakan keluarga yang Qur’ani? Tentunya mereka memiliki komitmen dalam melaksanakan visi dan misi untuk mewujudkan impiannya yaitu menjadikan anak-anak sebagai hafiz/hafizah Al Qur’an, karena mereka menyadari bahwa Al Qur’an adalah sebagai pedoman hidup, dan ada 6 kewajiban seorang muslim terhadap al qur’an, yaitu:
1. Meyakini,
2. Membaca dengan tartil,
3. Memahaminya,
4. Mengamalkannya,
5. Memperjuangkan, menyebarkan, mendakwahkan dan,
6. MENGHAFALKANNYA.
Kesadaran pak Tamim dan Ibu Wiwi akan pentingnya menghafal Al Qur’an serta berbagai keutamaannya juga menjadi semangat mereka dalam mendidik anak-anak menjadi hafiz/hafizah Al Qur’an. Salah satunya seperti yang di ungkapkan dalam HR. Al Hakim,
“siapa yang membaca (hafal) Al Qur’an maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.”
Dan masih banyak lagi keutamaan menjadi penghafal Al Qur’an. Disamping keutamaan menghafal Al Qur’an, tentu ada pula tantangan yang harus dihadapi oleh pak Tamim dan ibu Wiwi, namun itu semua bukanlah hambatan yang berarti bagi mereka, karena mereka sangat memahami bahwasannya Al Qur’an tidak hanya sekedar dihafal, tetapi juga untuk diamalkan, diperjuangkan, didakwahkan, dan diwujudkan dalam sebuah senarai peradaban.
Sayangnya, saya sebagai penikmat buku ini masih merasa ada kurang, yaitu mengenai foto, biodata dan berbagai prestasi yang pernah diraih para tokoh didalamnya. Padahal kesepuluh foto dan biodata lengkap dengan prestasi anak mereka ada didalam buku ini, tetapi tentang pak Tamim dan Ibu Wiwi tidak dicantum, ini membuat saya jadi penasaran dengan sepasang pasutri luar biasa ini.
Namun hal itu tidak mengurangi maksud dari penulis untuk menjadikannya sebagai buku penggugah dan penginspirasi bagi keluarga muslim lainnya untuk menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga Qur’ani. Insya Allah. Tidak hanya bagi orang tua buku ini diperuntukkan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kita semua sebagai anak-anak dan sebagai pemuda muslim dan muslimah yang menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup di dunia. Jadi, bersegeralah untuk membaca buku penggugah dan penginspirasi ini yang akan membuat kita iri (*dalam hal positif) terhadap keluarga ini.
Padang, Senin, 31 Mei 2010
Komentar
Posting Komentar