filsafat tindakan
Antara Tindakan Dan Pemahaman
heny ernawati
mahasiswi fak.sastra unand
Dalam kajian filsafat mengatakan bahwa tindakan itu adalah penjabaran dari apa yang dipahami. Tapi jika kita lihat di masyarakat, pada kenyataannya tidaklah selalu seperti itu. Contohnya saja, seorang pengajar, baik guru maupun dosen. Masyarakat, seluruh siswa atau mahasiswa dan pendidik itu sendiri juga pasti memahami fungsi dari seorang pengajar. Dia tidak hanya mengajarkan suatu disiplin ilmu atau materi tertentu saja, tetapi sosok pengajar juga harus mengajarkan tentang akhlak, bagaimana bersikap, intinya pengajar harus mencontohkan yang baik-baik terhadap anak didiknya. Tapi kenyataannya, seorang pengajar tidaklah selalu berbuat baik. Pasti ada atau pernah melakukan hal yang menyimpang dari hal benar yang di yakininya.
Contoh kesalahan yang konkrit ialah pengajar dan seluruh jajaran lembaga pendidikan mempercayai dan mengakui adanya peraturan yang mengatakan bahwa datang harus tepat waktu jam ***. Seharusnya, sebagai pengajar yang mendidik dan memberi contoh yang baik dengan menaati peraturan, mereka harus datang sebelum waktunya atau tepat waktu. Hal ini akan menjadi contoh bagi anak didik mereka. Namun ternyata terkadang mereka terlambat, mungkin banyak juga tenaga pengajar yang lebih sering terlambat dari pada on time-nya.
Mungkin sebagian orang ada yang mempertanyakan mengapa hal ini dapat terjadi? Menurut analisa saya, ada beberapa alasan atas terjadinya hal-hal seperti ini. Pertama, pernah melakukan salah atau kekhilafan itu adalah sudah kodratnya kita sebagai manusia. Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tak ada manusia yang benar-benar baik, pasti mereka pernah melakukan kesalahan, walau pun dia itu tahu kalau itu salah.
Alasan lainnya, mungkin seseorang itu melakukan kesalahan karena melihat atau terpengaruh oleh lingkungannya. Dia memiliki anggapan dari apa yang dia lihat. Jadi, mungkin saja dia melakukan kesalahan itu karena melihat bahwa kesalahan itu juga sudah banyak orang yang melakukan. Jadi dia berpikir bahwa kesalahan seperti itu sudah biasa saja. Tak terlalu diperhatikan orang. Akhirnya, lama-kelamaan hal ini menjadi suatu kebiasaan, walaupun dia tahu itu salaha.
Setelah mengetahui beberapa sebab mengapa seseorang itu melakukan yang hal-hal tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya, sekarang pasti ada pertanyaan dalam pikirannya, “lalu apa solusi dari permasalahan ini?” menurut saya, berdasarkan alasan pertama, bahwa setiap kita pasti pernah melakukan kesalahan, solusinya sangatlah ringan. Kita harus saling mengingatkan dan saling tegur. Karena walaupun kita tahu itu salah, terkadang ada sisi jahat dari kita yang terus menerus memaksa untuk melakukan kesalahan itu. Jadi, harus ada yang mengingatkan bahwa hal itu salah.
Sedang berdasarkan alasan kedua, bahwa hal buruk itu di pandang sudah biasa. Solusinya ialah ada suatu hukum yang adil. Jika melakukan kesalahan harus di beri hukuman, agar ada rasa jera bagi dia maupun orang lain yang melihat agar tidak melakukan kesalahan itu lagi di kemudian hari. Sedangkan orang melakukan sesuatu dengan benar, harus di beri semacam penghargaan, agar hal ini menjadi motivasi untuk yang lain dalam melakukan kebaikan. Maka terjadilah, berlomba-lomba dalam melakukan suatu kebaikan.
Sebagai kesimpulan, yang perlu kita contoh hanyalah keteladanan Rasulullah. Bukan yang lainnya, artis, guru, dosen,teman, atau bahkan orangtua. Karena dia lah sebaik-baik teladan.
Padang, 2010
Komentar
Posting Komentar