dakwah teladan
TAHU AKHWAT?
Sabtu, 26 febbruari 2011
By: Heny Ernawati
Tahu akhwat??? Apa itu akhwat?? mmm… yang kaku, terbentang panjang dan berbaris-baris, and biasanya dipakai buat ngeringin baju dibawah terik mentari ya?.. uppzzz… itu kawat ya?? Afwan””” just kidding koq.
Akhwat itu ribet tapi unik lho… tapi, tetap tak ada yang sempurna di dunia ini. Masing-masingnya memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jadi, sebenarnya sulit bagi saya jika hanya mengemukakan masalah-masalahnya saja. Wait.wait.wait… akhwat yang mana nech! Jangan-jangan persepsi kita berbeda, and ga nyambung dong ntar sama tulisan ini. Nah, sepertinya kita harus samakan persepsi kita dulu nich.
Jadi, akhwat itu bisa diartikan sebagai sebuah sebutan untuk wanita-wanita islam seluruhnya. Namun, dewasa ini kata akhwat telah mengalami penyempitan makna di Negara kita tercinta, Indonesia. Kini, sapaan itu tidak lagi di tujukan kepada seluruh wanita islam, ia hanya di tujukan kepada sebagian wanita islam saja, yaitu wanita islam yang identik dengan kerudung panjang dan lebarnya. Sedangkan yang berkrudung minimalis biasanya desebut kerudungers. Tapi panggilan akhwat biasa digunakan hanaya oleh sesama mereka saja. Dan orang luar biasa memanggilnya jilbabers. Atau bahkan ada juga yang menyebutnya jaulah.Whatever-lah dengan sebutan itu. Yang penting, dah tahu kan mana makna akhwat yang saya maksudkan?? Muslimah, kerudung panjang dan lebar, and merekalah yang biasanya aktif dalam kegiatan dakwah, berprofesi sebagai aktivis dakwah… profesi yang sangat mulia dan paling mulia didunia ini. Yang juga merupakan perdagangan yang tak pernah ada ruginya, tapi akan selalu menguntungkan bahkan berkali-kali lipat… dan akhwat yang saya maksud disini hanya fokus pada mereka aktivis dakwah kampus.
Akhwat, meskipun seorang aktivis dakwah yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, atau bahasa kerennya amar ma’ruf nahi munkar, tidaklah selalu menjadi manusia yang terbaik, tapi senantiasa selalu mengusahakan yang terbaik. Karena akhwatkan juga manusia, pasti pernah melakukan kesalahan juga. oleh sebab itu saya ingin mengulas beberapa masalah para akhwat itu, tapi tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi para akhwat. Saya hanya berharap semoga tulisan ini menjadi cerminan diri kita yang mengaku aktivis dakwah, sehingga kita dapat melakukan perbaikan-perbaikan nantinya. Amin.
Wah, pembukaan aja panjang banget ya?? ya sudahlah kita lanjutkan saja. Masalah pertama yang saya lihat di lapangan itu berkaitan dengan sikapnya. Sikap merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan kita dalam bersosialisasi. Namun sepertinya ini tidaklah mudah, apalagi kita sebagai akhwat, yang juga harus bersosialisasi tidak hanya dengan teman perempuan kita saja di kampus, tapi juga kepada kaum lelakinya. Dan saya melihat masih ada yang kurang bisa menjaga hijabnya. Tidak tahu apakah karena tidak mau di bilang meng-eksklusifkan diri, ingin bisa diterima, atau bagaimana. Tapi, solusi yang saya sarankan adalah tetap menjaga hijab kita. Jika kita menjaga diri untuk tidak terlalu dekat atau tidak fulgar dalam bersikap, mereka akan tahu diri dengan sendirinya, tapi tetap harus jaga komunikasi dengan semua teman-teman.
Nah itu di lingkungan kampus, bagaimana dengan mereka yang tinggal di dapur-dapur dakwah kampus atau di padang ini di sebut dengan wisma. Wisma, yang notabene nya tempat berkumpulnya mereka para aktivis yang terdiri dari beberapa tingkat umur, ada yang di-kakak kan, ada yang di-adik kan , dan ada yang sebagai teman. Sikap tetap harus dijaga laiknya sebuah keluarga. Namun apakah karena hubungan yang sangat dekat atau bagaimana, kadang ada seorang kakak yang merasa tidak di hormati atau dihargai. Ada juga golongan adik yang kadang merasa selalu diperintah-perintah saja dalam sebuah agenda. Solusinya, kita harus memahami, bukan meminta untuk di pahami. Solusi yang simpel, tapi bukan hal yang mudah, karena membutuhkan latihan hati dalam merasakan.
Setiap orang pasti memiliki amalan ibadanya masing-masing yang menonjol. Mungkin ada yang gemar bersedekah, gemar bersosialisasi, ada yang gemar qiyamul lail, gemar berpuasa sunah, dan lain-lain. Tapi jangan sampai kita menghilangkan moment untuk membaca surat cinta-Nya setiap hari, walaupun hanya satu ayat saja. Tentu tidak hanya dibaca saja, tapi juga kita tadabburi maknanya. Malu dong, masak aktivis dakwah, seminggu sekali baca qur’annya, ga tahu maknanya lagi. Masyarakat awam saja banyak yang bisa lebih meluangkan waktunya untuk membaca al qur’an sambil memahaminya dan mengeti bahasa arab pula. Wah, jangan sampai kalah kita. Ayo berlomba-lomba dalam kebaikan.
Dan ada juga akhwat yang holic banget bersosialisasi. Bagus sich. Tapi coba bayangkan jika itu terjadi tiap malam, dengan suara lantang, tidak cukup satu jam, dan tidak hanya dengan teman perempuannya saja, dengan teman laki-lakinya juga, dan dengan topic pembicaraan yang ga jelas lagi. yach, walaupun hanya melalui telefon. Duch, mengganggu yang lain bangetkan. Solusinya, beli sedikit pulsa kali ya, sekalian hemat gitu. ..
Problem lainnya lagi. Masalah ketertiban dan kebersihan. Ada akhwat yang sulit banget untuk menjaga kebersihan atau kerapian. Baru dirapiin bentar, udah acak-acakan aja. Dan kalau meminjam sesuatu, tidak meletakkan ketempatnya semula. Bikin pusing yang punya aja kan?? Bingung carinya lagi… yach, solusinya kita harus bersikap proposional. Letakkan sesuatu pada tempatnya. Karena, pribadi seseorang itu bisa dilihat dari bagaimana ia mengatur dan merawat barang-barang miliknya lhooo….lihat susunan bukunya, lemari bajunya, tempat tidurnya, dan lain sebagainya.
Yupz. Demikianlah akhwat. Segala yang ada dalam diri kita adalah dakwah, sebagai teladan untuk teman-teman kita. Sikap kita(mis.: jadi pendengar yang baik, memahami yang lain), keterjagaan kita (mis.: menjaga hijab), kerapian kita(misal: pakaian), ketertiban kita (mis.: ketepatan jam hadir kuliah), dan seterusnya. Karena keteladanan adalah dakwah yang paling efektif di bandingkan ucapan. Let do the best as possible as we can!!!!
Komentar
Posting Komentar